Potensi Kawasan
• Panorama
Alam
Taman Nasional Bukit Duabelas ini memiliki topografi datar,
bergelombang, dan perbukitan dengan kisaran 50-438 Mdpl. Ada 12 bukit utama
yaitu Bukit Kuaran, Bikit Sungai Punai I Punai Banyak, Bukit Barumbung, Bukit
Lubuk Semah, Bukit Sungai Keruh Mati, Bukit Panggang, Bukit Enau, Bukit
Terenggang, Bukit Pal, Bukit Suban, Bukit Tiga Beradik, dan Bukit Bitempo.
Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, Taman Nasional
Bukit Duabelas termasuk dalam Tipe A dengan curah hujan terendah 3.294 mm dan
tertinggi 3.669 mm, suhu terendah 32ºC dan tertinggi 40ºC,sedangkan kelembaban
udara terendah 80% dan tertinggi 94%. Dengan Topografi tersebut, Taman Nasional
Bukit Duabelas mempunyai kekhasan pesona alam yang tidak akan dapat ditemui
ditempat lain.
Air Terjun ini terdiri dari tiga tingkat dengan dinding
batu. Ketinggian pada tingkat pertama dari atas 7 m, tingkat kedua ( Tengah ) 3
m, dan tingkat ketiga ( bawah ) 10 m. Kondisi air cukup jernih dan sangat
dingin. Air terjun ini berada pada jarak sekitar 6 Km dari desa Lubuk Jering
(SPTN Tebo Resort Air Hitam
• Sungai
Kejasong
Merupakan aliran sungai utama di wilayah Taman Nasional yang
termasuk kawasan DAS Batang Hari. Aktivitas wisata yang bisa dilakukan adalah
petualangan dengan menyusuri sungai untuk pengamatan tumbuhan dan satwa liar
terutama dibagian hulu yang masih berupa hutan primer.
Potensi
Flora
• Tumbuhan
Obat
Jenis tumbuhan obat yang ditemukan di TNBD meliputi 137
jenis yang terdiri dari 101 jenis tanaman obat dan 27 jenis cendawan obat.
Beberapa diantaranya adalah Kenaikan Biso(Tertrastigms lanceolarium), akar
kunyit (Arcangellisia flava (L.) Biels, Puar Lancag (Eitingera sp). Tumbuhan
bat ini sudah biasa digunakan Orang Rimba dalam pengobatan.Saat ini sebanyak 45
jenis tanaman obat telah dikembangkan didalam demplot pengembanagan Tanaman
Obat yang berada di Resort Air Hitam I, SPTN Wilayah II.
• Tumbuhan
Anggrek
Tidak kurang dari 41 jenis Anggrek dari 18 marga yang hidup
di Taman Nasional Bukit Duabelas, diantaranya adalah Anggrek epifit
(Dendrobium/ eonis, Eria puchella,Eria bractescens, Eria multiflora,
Bu/bophyl/um vaginatum, dan Anggrek Tanah (Phalus tankervillae). Saat ini
spesies anggrek yang ditemukan di dalam kawasan dikembangkan dengan pembuatan
deplot/stasiunpengembanagan taman anggrek yang juga berada di Resort Air Hitam
I SPTN Wilayah II, beberapa jenis bahkan sudah mulai direintroduksikan ke
kawasan.
Potensi Fauna
• Berdasarkan
penelitian LIPI tahun 1998 jenis mamalia yang terdapat di kawasan Bukit
Duabelas antara lain : Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), kucing hutan
(Felis bengalensis), Beruang Madu (Helarctos mal ayanus), Rusa Sambar (Cervus
unicolar) Babi Hutan (Sus spp), Musang (Paradoxurus hermaphroditus), Kera Ekor
Panjang (Macaca fascicularis), Beruk (Macaca nemest rina), Biawak (Varanus
salvator), siamang ( Sympalangus syndactyl us), Ungko (Hylobates agilis)
Untuk jens Aves, antara lain : Balam, Murai Batu,Ayam Hutan,
Kuau, Dang Enggang Gading, Gagak, Rangkong.
Salah satu jeis Amfibi yang dapat ditemukan adalah Labi Labi
( Troyx spp) yang menjadi salah satu sumber protein hewani bagi Orang Rimba
selain ikan dan Babi hutan.
• Kupu-kupu
Taman Nasional Bukit Duabelas menyimpan ptensi fauna yang
keanekaragamannya cukup tinggi. Salah satu yang telah tereksplorasi adalah
jenis kupu-kupu, Tak kurang dari 12 jenis kupu-kupu telah teridentifikasi,
diantaranya adalah Trogonoptera brookiana, Papilio nephelus, Chetosia hypsea,
Graphium doson, Graphium agamemnon, Ideopsis, Treidesamprysus.
Saat Terbaik Untuk Mengunjungi TNBD
• Musim
kunjungan terbaik adalah bulan Juni s/d Oktober setiap tahunnya.
Yang Harus Diketahui Sebelum Datang
Ke TNBD
• Taman
Nasional Bukit Duabelas adalah rumah bagi Suku Anak Dalam, Jadi berunjung ke
Bukit Duabelas untuk bertemu mereka merupakan kegiatan yang menarik. Nahkan
tidak sedikit orang yang sengaja berkunjung ke Taman Nasional Bukit Duabelas
hanya untuk merasakan bagaimana hidup bersama Suku Anakk Dalam.
• Suku Anak
Dalam diyakini sebagai orang maalau sesat. Keberadaan mereka didalam hutan
belantara jambi karena melarikan diri dari serangan musuh . Cerita lain
menyebutkan bahwa Suku Aak Dalam (SAD) berasal dari Pagaruyung yang mengungsi
di jambi. Hal ini didukung dengan kesamaan bahasa dan adat istiadat yang
dimiliki suku ini dengan suku Pagaruyung di Minangkabau. Salah satu kesamaan
adat mereka adalah sistem Matrilineal. Mereka bertahan hidup di dalam hutan
dengan berburu, bercocok tanam dan memancing.
No comments:
Post a Comment